SYARIAH: Journal of Islamic Law http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS <p><strong>SYARIAH: Journal of Islamic Law</strong> is an open-access journal published by STISNU Aceh. The journal is concerned with scientific publications relating to the study of Islamic law. Islamic law can be Islamic Economic Law, Islamic Family Law, Islamic Criminal Law, Islamic Constitutional Law, Zakat and Waqf Law, and Thought of Contemporary Islamic Law focused on the development of Islamic Law (sharia), and legislation which has done through library research, or field research.<br /><br />The publication of this academic journal is intended to enrich vocabulary Islamic law that has been developing in the present. This journal is published biannually in June and December. The journal is currently indexed and/or included by Google Scholar, etc.<br /><br />Every received article should follow Author guideline. Any submitted paper will be reviewed by reviewers. Review process employs with blind Review that the reviewer does not know the identity of the author, and the author does not know the identity of the reviewers.</p> en-US fakhrul.rijal@ar-raniry.ac.id (FAKHRUL RIJAL) muhammad.furqan@ar-raniry.ac.id (MUHAMMAD FURQAN) Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 OJS 3.2.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 ANALISIS KETENTUAN HUKUM PELAKU PEMBUNUHAN SATWA DALAM FATWA MUI NOMOR 04 TAHUN 2014 DAN QANUN ACEH NOMOR 11 TAHUN 2019 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/94 <p><strong>Abstract: </strong>This thesis analyzes the provisions of legal sanctions and animal protection due to the increasing cases of wildlife killings in Aceh that threaten the existence of endangered animals such as Sumatran tigers, elephants, one-horned rhinos, and hornbills. To prevent this, further regulation is needed through Aceh Qanun Number 11 of 2019 concerning wildlife management and MUI Fatwa Number 04 of 2014 concerning Endangered Wildlife Conservation to Maintain Ecosystem Balance. There are two issues that are the focus of research, namely legal sanctions against perpetrators of killing protected animals in Aceh Qanun Number 11 of 2019 and MUI Fatwa Number 04 of 2014 and a review of ta'zir theory on these legal sanctions. In answering these problems, the author uses two theoretical frameworks, namely the theory of legislation and the theory of ta'zir as the authority of ulil amri, as well as the research method of normative legal studies with descriptive analysis. The results showed that criminal sanctions in Aceh Qanun Number 11 of 2019 concerning Wildlife Management in Aceh and MUI Fatwa Number 04 of 2014 concerning Endangered Wildlife Conservation to Maintain Ecosystem Balance can be explained in terms of law, prohibited acts, and criminal sanctions. In addition, the concept of criminal sanctions in the Aceh Qanun is closely related to the definition of ta'zir as a form of punishment that is flexible and can be adapted to certain social conditions and circumstances that cannot be specifically regulated in Islamic law. Therefore, this research is expected to make an important contribution to the development of legal theory and law enforcement practice in handling cases of killing protected animals in Aceh by revising the regulations.</p> <p><strong>Keywords: Legal Provisions, Animal Protection, Qanun Aceh, MUI fatwa.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Artikel ini menganalisis ketentuan sanksi hukum dan perlindungan satwa karena meningkatnya kasus pembunuhan satwa liar di Aceh yang mengancam keberadaan satwa-satwa langka seperti harimau sumatra, gajah, badak bercula satu, dan burung rangkong. Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan pengaturan yang lebih lanjut melalui Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2019 tentang pengelolaan satwa liar dan Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem. Terdapat dua permasalahan yang menjadi fokus penelitian, yaitu sanksi hukum terhadap pelaku pembunuhan satwa yang dilindungi dalam Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2019 dan Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 serta tinjauan teori ta'zir terhadap sanksi hukum tersebut. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan dua kerangka teori, yaitu teori perundang-undangan dan teori ta'zir sebagai kewenangan ulil amri, serta metode penelitian kajian hukum normatif dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanksi pidana dalam Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Satwa Liar di Aceh dan Fatwa MUI Nomor 04 Tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem dapat dijelaskan dari segi hukum, perbuatan yang dilarang, dan sanksi pidana. Selain itu, konsep sanksi pidana dalam Qanun Aceh memiliki kaitan erat dengan definisi ta'zir sebagai bentuk hukuman yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi sosial dan keadaan tertentu yang tidak dapat diatur secara spesifik dalam syariat Islam. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting bagi pengembangan teori hukum dan praktik penegakan hukum dalam menangani kasus pembunuhan satwa dilindungi di Aceh dengan merevisi regulasinya.</p> <p><strong>Kata Kunci; Ketentuan Hukum, Perlindungan Satwa, Qanun Aceh, Fatwa MUI.</strong></p> Junaidi Copyright (c) 2023 Junaidi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/94 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 ANALISIS HADIS AL-WALAD LI AL-FIRĀSY DENGAN METODE ASBĀB AL-WURŪD, DAN PENALARAN LUGHAWIYAH http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/95 <p><strong>Abstract: </strong>The problem of the position of children born out of wedlock is a classic problem which is still interesting to study and discuss the benefits that will arise from the problems that will be faced in accordance with changing times. Basically, many parties want to study the benefits of the position of illegitimate children using the maqasid al-syari'ah method with the aim of protecting the child's life, living a decent life and growing well, and getting rights like children born in generally. In fact, children born out of wedlock, whether sirri marriage, li'an or adulterous children, are not assigned to their father or their father's family, which causes a child not to have equal rights compared to children in general. This study tries to examine from the perspective of analysis the asbāb al-wurūd al-hadīts, lughawiyah, ta'līliyah and istiṣlāhiyah methods. With this analysis it is hoped that it can answer the problem and become a solution for the legal position of children born out of wedlock.</p> <p><strong>Keywords: Legal Position, Children Out of Wedlock, Reasoning.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Permasalahan kedudukan anak yang lahir di luar nikah merupakan masalah klasik yang hingga sekarang masih tetap menarik untuk dikaji dan dibahas kemaslahatan yang akan ada terhadap permasalahan yang akan dihadapi sesuai dengan perubahan zaman. Pada dasarnya banyak pihak yang ingin mengkaji tentang kemaslahatan kedudukan anak luar nikah ini dengan metode maqasid al-syari’ah dengan tujuan adalah perlidungan kehidupan sang anak, kehidupan yang layak dan hidup tumbuh berkembang dengan baik, dan mendapatkan hak seperti anak-anak yang lahir pada umumnya. Anak yang lahir di luar pernikahan pada kenyataannya, baik nikah sirri, li’an dan anak zina tidak dinasabkan kepada ayahnya dan keluarga ayahnya, yang menyebabkan seorang anak tidak mendapatkan persamaan hak dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Penelitian ini mencoba mengkaji dari perspektif analisis metode asbāb al-wurūd al-hadīts, lughawiyah, ta’līliyah dan istiṣlāhiyah. Dengan analisis ini diharapkan dapat menjawab permaslahan dan menjadi solusi bagi kedudukan hukum anak yang lahir di luar pernikahan.</p> <p><strong>Kata Kunci: Kedudukan Hukum, Anak Luar Nikah, Penalaran.</strong></p> Zaki Satria Copyright (c) 2023 Zaki Satria https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/95 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 HAK JAMINAN KESEHATAN ISTRI MENURUT KETENTUAN FIQH TENTANG NAFKAH (ANALISIS FIQH AL-SYĀFI’IYYAH) http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/96 <p><strong>Abstract: </strong>The purpose of this study was to find out the provisions of Fiqh Al-Syāfi'iyyah regarding the wife's maintenance and to find out the wife's health security rights according to the provisions of Fiqh Al-Syāfi'iyyah regarding maintenance. This research is a library researchwith a qualitative type and is descriptive through a normative approach with documentation data collection techniques and content analysis techniques. The results of his research stated that the provisions of Fiqh Al-Syāfi'iyyah regarding the wife's maintenance are that the husband is obliged to provide maintenance in the form of staple food along with side dishes, clothing and shelter. The obligation of staple food along with side dishes and clothing is adjusted to the condition of the rich, poor or middle husband, while the obligation to live is adjusted to the condition of the wife. The obligation to live is different from the obligation to eat and clothe, because the obligation to live according to the circumstances of the wife is to take advantage of it without ownership, while the obligation to eat and clothe is ownership, where the wife can have a replacement when the husband does not provide it. The wife's right to health insurance according to the provisions of Fiqh Al-Syāfi'iyyah regarding maintenance is not mandatory. This provision is based on the qiyas (analogy) of a house being rented out. This means that a sick wife is like a rented house in a state of disrepair, and giving medicine to a wife is the same as repairing a house for the needs of the authenticity of the house which is the owner's obligation, so that the medicine is not the obligation of the husband which is the original (bodily) need of the wife which is returned to the parents. wife or himself.</p> <p><strong>Keywords: Guarantee, Wife's Health, Living.</strong><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketentuan <em>Fiqh Al-Syāfi’iyyah</em> tentang nafkah istri dan untuk mengetahui hak jaminan kesehatan istri menurut ketentuan <em>Fiqh Al-Syāfi’iyyah</em> tentang nafkah. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (<em>library research</em>) dengan jenis <em>kualitatif</em> dan bersifat <em>deskriptif</em> melalui pendekatan <em>normatif</em> dengan teknik pengumpulan data <em>dokumentasi</em> dan teknik analisa <em>content analysis</em>. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa ketentuan <em>Fiqh Al-Syāfi’iyyah</em> tentang nafkah istri adalah suami wajib memberikan nafkah dalam bentuk makanan pokok beserta lauk pauk, pakaian dan tempat tinggal. Kewajiban makanan pokok beserta lauk pauk dan pakaian disesuaikan dengan keadaan kaya, miskin atau pertengahan suami, sedangkan kewajiban tempat tinggal disesuaikan dengan keadaan istri. Kewajiban tempat tinggal ini berbeda dengan kewajiban makanan dan pakaian, karena dalam kewajiban tempat tinggal yang disesuaikan dengan keadaan istri merupakan pengambilan manfaat saja tanpa pemilikan, sedangkan kewajiban makanan dan pakaian merupakan pemilikan, di mana istri dapat memiliki penggantinya di saat suami tidak memberikannya. Hak jaminan kesehatan istri menurut ketentuan <em>Fiqh Al-Syāfi’iyyah</em> tentang nafkah tidak diwajibkan. Ketentuan ini didasarkan pada qiyas (analogi) atas rumah yang disewakan. Artinya istri yang sakit ibarat rumah sewaan dalam keadaan rusak, dan memberi obat pada istri sama seperti memperbaiki rumah untuk kebutuhan keaslian dari rumah tersebut yamg merupakan kewajiban pemiliknya, sehingga obat tersebut bukan kewajiban suami yang merupakan kebutuhan asal (badan) istri yang dikembalikan pada orang tua istri ataupun pada dirinya sendiri.</p> <p><strong>Kata Kunci: Jaminan, Kesehatan Istri, Nafkah.</strong></p> Muhammad Yasir, Fauzal Fikra Copyright (c) 2023 Muhammad Yasir, Fauzal Fikra https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/96 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 PENGELOLAAN HARTA BAITUL MAL DAN KEMASLAHATAN UMAT: KAJIAN MASA PEMERINTAHAN KHULAFAUR RASYIDIN http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/97 <p><strong>Abstract: </strong>This study discusses the management of Baitul Mal asset and the benefit of the people. Baitul Mal is an institution that carries out the economic and social functions of an Islamic state that cannot be separated from the function of the caliph who has a special task of managing all the assets of the people, both in the form of income and expenses for the state. This study will discuss how the management of Baitul Mal funds during the Khulafaur Rasyidin era. This research is a library research using a descriptive method approach. By getting data from primary sources, namely texts or books that will provide an overview of the management of baitul mal funds during the reign of Khulafaur Rasyidin. The results of this study are; a) Caliph Abu Bakr Ash-Siddiq applies the concept or principle of Balance Budget Policy (equality) in the matter of living necessities and policies on Baitul Mal assets that have been collected are not allowed to accumulate in the long term, must be immediately distributed to all Muslims; b) When Umar bin Khattab became caliph, the wealth or cash owned by the state in Baitul Mal increased very significantly. Umar succeeded in expanding his territory, establishing al-Diwan, appointing a clerk for the state, setting salaries for government employees, as well as making and budgeting budgets for the armed forces in order to strengthen national defense; c) At the time of Caliph Uthman bin Affan, the wealth of the state was increasing compared to the previous caliph. Ustman also applied the principle of equality in meeting the basic needs of the community as was applied by Caliph Umar. Caliph Ustman also provided different assistance at a higher level; and d) Caliph Ali bin Abi Talib in terms of the distribution of assets applies the principle of equity. In addition, all state income stored in the Baitul Mal must be immediately given to the Muslims without any remaining or reserve funds.</p> <p><strong>Keywords: Management, Baitul Mal’s Treasure, Benefit, Khulafaur Rashidin.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Kajian ini membahas tentang pengelolaan harta Baitul Mal dan kemaslahatan umat. Baitul Mal merupakan institusi yang menjalankan fungsi-fungsi ekonomi dan sosial dari sebuah negara Islam yang tidak terlepas dari fungsi khalifah yang mempunyai tugas khusus untuk mengelola segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran untuk negara. Penelitian ini akan membahas tentang bagaimanakah pengelolaan dana Baitul Mal pada masa Khulafaur Rasyidin. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (<em>Library Research</em>) dengan menggunakan pendekatan metode deskriptif. Dengan mendapatkan data dari sumber primernya yaitu teks-teks atau buku-buku yang akan memberikan gambaran pada pengelolaan dana baitul mal pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Adapun hasil penelitian ini adalah; a) Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menerapkan konsep atau prinsip <em>Balance Budget Policy </em>(kesamarataan) dalam masalah kebutuhan hidup dan kebijakan terhadap harta Baitul Mal yang telah dikumpulkan tidak dibenarkan menumpuk dalam jangka waktu yang lama, harus segera didistribusikan kepada seluruh kaum muslimin; b) Pada saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, kekayaan atau kas yang dimiliki oleh negara di Baitul Mal meningkat sangat singnifikan. Umar berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan, mendirikan <em>al-Diwan</em>, mengangkat juru tulis untuk negara, menetapkan gaji para pegawai pemerintah, serta membuat dan menganggarkan anggaran untuk angkatan perang dalam rangka memperkuat pertahanan negara; c) Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, kekayaan negara semakin meningkat dibandingkan dengan khalifah sebelumnya. Ustman juga menerapkan prinsip persamaan dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sebagaimana pernah diterapkan oleh Khalifah Umar. Khalifah Ustman juga memberikan bantuan yang berbeda pada tingkat yang lebih tinggi; dan d) Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam hal pendistribusian harta menerapkan prinsip pemerataan. selain itu, seluruh pendapatan negara yang disimpan dalam Baitul Mal harus segera diberikan kepada kaum muslimin tanpa adanya sisa atau dana cadangan.</p> <p><strong>Kata Kunci: Pengelolaan, Harta Baitul Mal, Kemaslahatan, Khulafaur Rasyidin.</strong></p> Shafwan Bendadeh, Mohammad Haikal Copyright (c) 2023 Shafwan Bendadeh, Mohammad Haikal https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/97 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 GANTI RUGI TANAH WAKAF: TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/98 <p><strong>Abstract: </strong>Islamic law and Law Number 41 of 2004 are two sources of law that regulate waqf, especially regarding the status of waqf land and the nadzir's authority over it. This research aims to explore the legality of law regarding compensation for waqf assets from the perspective of Islamic law and law. Through a literature research approach with a juridical-normative focus, the research results show that in Islamic law, compensation for waqf land is basically not permitted, however developments in science make it possible to compensate or exchange waqf assets that are no longer in accordance with the objectives of the waqf. In Indonesia, changes in the function of waqf land are regulated by Government Regulation Number 42 of 2006. The view of Islamic law supports this provision because it prioritizes agreement and willingness between related parties, so that waqf assets can still provide benefits according to the purpose of the waqf.</p> <p><strong>Keywords: Waqf Land, Islamic Law, Law.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 merupakan dua sumber hukum yang mengatur tentang perwakafan, khususnya mengenai status tanah wakaf dan kewenangan nadzir atasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi legalitas hukum terkait ganti rugi harta wakaf dalam perspektif Hukum Islam dan undang-undang. Melalui pendekatan penelitian kepustakaan dengan fokus yuridis-normatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Hukum Islam, ganti rugi terhadap tanah wakaf pada dasarnya tidak diperbolehkan, namun perkembangan ilmu pengetahuan memungkinkan ganti rugi atau penukaran aset wakaf yang tidak lagi sesuai dengan tujuan wakaf. Di Indonesia, perubahan fungsi tanah wakaf diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006. Pandangan Hukum Islam mendukung ketentuan ini karena mengutamakan kesepakatan dan kerelaan antara pihak-pihak terkait, sehingga harta wakaf tetap dapat memberikan manfaat sesuai tujuan wakaf.</p> <p><strong>Kata Kunci: Tanah Wakaf, Hukum Islam, Undang-undang.</strong></p> Salman Copyright (c) 2023 Salman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/98 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 QIYAS TIDAK DIGUNAKAN OLEH SEBAGIAN KELOMPOK (ANALISIS PENDEKATAN USHUL FIQH) http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/104 <p><strong>Abstract: </strong>Some sources of Islamic law are agreed upon by scholars and some are still debated. What is agreed upon is the Qur'an, Hadith, Ijma' and Qiyas. What is disputed is istihsan, maslahah murrasa, istishab, 'uruf, madzhabas-Shahabi, syar'u man qablana. The author does not discuss everything but only limits it to qiyas. But the problem is that some groups do not recognize qiyas as a source of Islamic law. The author wants to examine the real problems that make some of these groups reject qiyas. To answer this problem, the author uses qualitative methods. Qiyas consists of four elements, namely ashl, Far'u, ashl law, and illat. There are three parts to qiyas: qiyas awlawi, qiyas musawi, and qiyas adwan. The groups that reject qiyas are the Shiite Imamiyah, al-Nazham and Ahlu Zhahiri who are popularly known as Zhahiriyah. According to Imam Syafi'i, qiyas is the same as ijtihad. Qiyas and ijtihad are two proverbs that have the same meaning. Qiyas is a method of Islamic law. The legal conclusions obtained using the qiyas method become a source of Islamic law and teachings. Therefore, it is not surprising that some scholars make qiyas the fourth source of law after the Qur'an, al-Sunnah and al-Ijma'. Groups that reject qiyas do not yet understand the true existence of qiyas in the istinbat of Islamic law. Even though qiyas has proof or correct arguments based on the Koran, Sunnah, Ijma' and reason.</p> <p><strong>Keywords: Qiyas, Ushul Fiqh, Illat.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Sumber hukum Islam ada yang disepakati ulama dan ada yang masih diperdebatkan. Yang disepakati adalah Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Yang diperselisihkan adalah <em>istihsan</em>, <em>maslahah mursalah</em>, <em>istishab</em>, <em>‘uruf</em>, <em>madzhabas-Shahabi</em>, <em>syar’u man qablana</em>. Penulis tidak membahas semuanya tetapi hanya membatasi pada qiyas saja. Tetapi permasalahannya ada sebagian kelompok tidak mengakui qiyas sebagai sumber hukum Islam. Penulis ingin mengkaji apa permasalahan yang sebenarnya yang membuat sebagian kelompok tersebut menolak qiyas. Untuk menjawab permasalahan ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Qiyas terdiri atas empat unsur yaitu <em>ashl, Far’u, </em>hukum <em>ashl, </em>dan <em>illat. </em>Qiyas ada tiga bagian: <em>qiyas awlawi, qiyas musawi, </em>dan <em>qiyas adwan. </em>Adapun kelompok yang menolak qiyas adalah Syi’ah Imamiyah, al-Nazham dan Ahlu Zhahiri yang populer dengan sebutan Zhahiriyah. Menurut Imam Syafi’i,&nbsp;<em>qiya</em>s sama dengan ijtihad.&nbsp;<em>Qiyas</em>&nbsp;dan ijtihad adalah dua lafaz yang mempunyai makna yang sama. Qiyas merupakan salah satu metode hukum Islam. Kesimpulan hukum yang diperoleh dengan metode qiyas menjadi sumber hukum dan ajaran Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila sebagian ulama menjadikan qiyas sebagai sumber hukum keempat setelah al-Qur’an, al-Sunnah, dan al-Ijma’. Kelompok yang menolak qiyas belum memahami eksistensi qiyas sesungguhnya dalam istinbat hukum Islam. Padahal qiyas telah ada hujjah atau argumentasi yang benar berdasarkan al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan akal.</p> <p><strong>Kata Kunci: Qiyas, Ushul Fiqh, Illat.</strong></p> Muhazzir Copyright (c) 2023 Muhazzir https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/104 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 KEBUTUHAN MANUSIA MENURUT PERSPEKTIF ASY-SYATIBI DAN ABRAHAM MASLOW http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/105 <p><strong>Abstract: </strong>This research aims to find similarities and differences as well as the relevance of the theory of human needs according to Ash-Syāṭibī and Abraham Maslow. This research uses qualitative methods with the type of literature study. The theory used is benefit theory with a comparative approach. The data used is secondary data in the form of books written directly by ash-Syāṭibī and Abraham Maslow. This research foundthat ash-Syāṭibī's theory with a time span of emergence that is far from Maslow's theory still has significant relevance to Maslow's theory of needs. Ash-Syāṭibī's theory has the advantage of being inclusive in accepting changes in human needs in the future as a result of advances in science and technology. On the other hand, Maslow's theory is limited and closed, so that if one day a new need arises, apart from the five hierarchies of needs that have been expressed, then the new need needs to be created in a new hierarchy because it is not suitable to be included in one of the existing hierarchies, because the existing hierarchy is closed and limited. However, ash-Syāṭibī's theory regarding human needs is still implicit, not explicit like Abraham Maslow's theory. This is the weak point of Ash-Syāṭibī's theory when compared to Abraham Maslow's theory, besides that Ash-Syāṭibī has not revealed the needs of modern humans such as the need for esteem and the need for self-actualization into the hierarchy of maqāṣid al-Syarīah that he compiled.</p> <p><strong>Keywords: </strong><strong>Human Needs, </strong><strong>Maqā</strong><strong>ṣ</strong><strong>id ash-Syarī'ah, Maslahat</strong><strong>.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan serta relevansi teori kebutuhan manusia menurut asy-Syāṭibī dan Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori maslahat dengan pendekatan perbandingan. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa buku-buku yang ditulis langsung oleh asy-Syāṭibī dan Abraham Maslow. Penelitian ini menemukan bahwa teori asy-Syāṭibī dengan rentang waktu kemunculan yang terpaut jauh dari teori Maslow masih memiliki relevansi yang signifikan dengan teori kebutuhan Maslow. Teori asy-Syāṭibī memiliki keunggulan karena bersifat inklusif untuk menerima perubahan kebutuhan manusia di masa mendatang sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya teori Maslow bersifat terbatas dan tertutup sehingga jika suatu saat muncul kebutuhan baru, selain dari lima hieararki kebutuhan yang telah diungkapkan maka kebutuhan baru itu perlu dibuatkan hierarki baru karena tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam salah satu dari hierarki yang ada, sebab hierarki yang ada bersifat tertutup dan terbatas. Meski demikian, teori asy-Syāṭibī memengenai kebutuhan manusia masih bersifat implisit, belum eksplisit seperti teori Abraham Maslow. Hal inilah yang menjadi titik lemah teori asy-Syāṭibī jika dibandingkan dengan teori Abraham Maslow disamping asy-Syāṭibī belum mengungkap kebutuhan manusia modern seperti kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri ke dalam hieararki <em>maqā</em><em>ṣ</em><em>id al-syarīah </em>yang ia susun.</p> <p><strong>Kata Kunci: Kebutuhan Manusia, Maqāṣid asy-Syarī‘ah, Maslahat.</strong></p> Husni Copyright (c) 2023 Husni https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/105 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000 KEWAJIBAN ALIMENTASI ANAK KEPADA ORANG TUA MENURUT KAJIAN KITAB TURAST DAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/106 <p><strong>Abstract: </strong>Nowadays there are many elderly people who live in their old age with no one to take care of them, starting from being left alone in an old house to the level of care in nursing homes for elderly parents. This phenomenon occurs because many of their adult children do not have time to pay attention to their parents so that many of them are ignored by their children and some even do not provide support when they are no longer able to work. This thesis examines Child Alimony Obligations. To Parents according to the study of the Turast Book and Law no. 1 of 1974. This research aims to find out what a child's alimony obligations are to their parents according to a study of the law and law. The research method used is library research, namely by referring to the literature books and law no. 1 of 1974 concerning marriage. The results of this research conclude that children are obliged to provide for their parents when they are helpless due to illness, weakness and so on. However, there is a difference between the study in the Turast book and the law, namely that obligations are absolute according to the law and obligations are not absolute according to the study of the Turast book. Our aim is for readers to provide input on this research, which definitely still has many shortcomings. And for researchers to be able to develop research to make it more perfect.</p> <p><strong>Keywords; Obligations, Alimentations, Turas Book, Laws.</strong></p> <p><strong>Abstrak: </strong>Dewasa ini banyak terdapat orang-orangtua yang diumur senjanya hidup dengan tidak ada yang mengurusi, mulai dari tuinggal sebatang kara di rumah tua sampai pada taraf penitipan di rumah-rumah penitan orang tua jompo. Fenomena ini terjadi karena banyak anak-anak mereka yang sudah dewasa tidak sempat menghiraukan orang tua mereka sehingga banyak dari mererka yang diabaikan oleh anak-anaknya bahkan ada yang tidak memberikan nafkah di saat mereka sudah tidak berdaya untuk bekerja, kajian ini meneliti tentang Kewajiban Alimentasi Anak Kepada Orang Tua menurut kajian Kitab Turast dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kewajiban alimentasi anak kepada orang tua menurut kajian kitab turast dan undang-undang. Adapun metode penelitoian yang digunakan adalah penelitian pustaka yaitu dengan merujuk kepada kitab-kitab turast dan undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa anak berkewajiban untuk memberikan nafkah orang tuannya disaat mereka sudah tiak berdaya baik karena sakit, lemah dan lain sebaginya. Namun terdapat perbedaan antara kajian dalam kitab turast dengan undang-undang yaitu kewajiban bersifat mutlak menurut undang-undang dan kewajiban yang tidak mutlak menurut kajian kitab turast. Pasan kami untuk para pembaca agar dapat memberikan masukan-masukan terhadap penelitian ini yang pasti masih terdapat banyak kekurangan. Dan utuk para peneliti agar dapat mengembangkan penelitian agar lebih sempurna.</p> <p><strong>Kata Kunci; Kewajiban, Alimentasi, Kitab Turas, Undang-Undang.</strong></p> Aria Sandra, Hika Maini Copyright (c) 2023 Aria Sandra, Hika Maini https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 http://ejournal.stisnu-aceh.ac.id/index.php/JIIS/article/view/106 Sat, 30 Dec 2023 00:00:00 +0000