IJMA’ DALAM USHUL FIKIH

Authors

  • Muhammad Yasir Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh

DOI:

https://doi.org/10.22373/jiis.v4i2.92

Abstract

Abstract: In Islamic legal theory (uṣul al-fiqh), ijmam is the third source of law after the Koran and sunnah (hadith). During the early legal schools of thought, the position of ijmaid was fourth. There was a shift in position after entering the Imam ash-Shafi'i period, and it was strengthened again in the classical period, the function and position of ijmaa became static, rigid, formal, final, not prospective for the future, and did not allow ijmaat to occur in the future. come. The concept of ijmaat during the early legal schools of law was a principle of justification to state the legitimacy of various different opinions, as an effort to find common ground and agree in establishing syar'i law. Al-Qur'an and sunnah are the propositions that create, while qiyas, ijmaak, and others are the propositions that reveal in finding the law. The concept of Ijmak was originally something dynamic and there was a harmonious integrative relationship between sunnah, ijtihad and ijmaak, but after the ash-Shafi'i period, ijmaq changed and shifted to be static, formal, not prospective for the future, the object of study is very limited, and Ijma is only possible during the friendship period, in the future it is not possible. It was even worse in the classical period, ijmaq became something that was final, and could not be changed until "the door to ijtihad was closed", conformity developed and madhhab fanatics. The model of consensus that is needed in this modern era is democratic consensus organized in the form of legislative institutions at the national and international levels. These institutions are needed to accommodate various interests and agreements in every nation-state, and the international community to discuss crucial international issues, such as humanitarian, human rights, justice, economic, and terrorism problems regardless of ethnic, racial, religious and cultural backgrounds, the important thing is that we all have a commitment to improving human life in the international world. And the results of formal and non-formal consensus can in time be changed again in line with developments in the situation and conditions of modern times.

Keywords: Consensus, Modern Era.

Abstrak: Dalam teori hukum Islam (uul al-fiqh), ijmak sebagai sumber hukum ketiga sesudah al-Qur’an dan sunnah (hadis). Pada masa mażhab-mażhab hukum awal, posisi ijmak pada urutan keempat. Terjadi pergeseran posisi setelah memasuki periode Imam asy-Syafi’i, dan diperkuat lagi pada periode klasik, fungsi dan kedudukan ijmak menjadi statis, rigid, formal, final, tidak prospektif ke masa depan, dan tidak memungkinkan terjadi ijmak di masa-masa yang akan datang. Konsep ijmak pada masa mażhab-mażhab hukum awal merupakan prinsip jastifikasi untuk menyatakan keabsahan berbagai pendapat yang berbeda, sebagai upaya mencari titik temu dan bersepakat dalam menetapkan hukum syar’i. Al-Qur’an dan sunnah sebagai dalil yang mencipta, sedangkan qiyas, ijmak, dan yang lainnya sebagai dalil yang menyingkap dalam menemukan hukum. Konsep Ijmak pada awalnya sesuatu yang dinamis dan terjadi hubungan integratif yang harmonis antara sunnah, ijtihad dan ijmak, tetapi setelah periode asy-Syafi’i, ijmak berubah dan bergeser menjadi statis, formal, tidak prospektif ke masa depan, obyek kajian sangat terbatas, dan ijmak hanya memungkinkan terjadi di masa sahabat, ke depan tidak mungkin terjadi. Lebih diperparah lagi pada periode klasik, ijmak menjadi sesuatu yang sudah final, dan tidak bisa diubah hingga “pintu ijtihad tertutup”, konformitas berkembang dan fanatik mażhab. Model ijmak yang diperlukan di era modern ini adalah ijmak demokratis yang diorganisir dalam bentuk lembaga legislatif tingkat nasional dan internasional. Lembaga-lembaga ini dibutuhkan untuk mengakomodasi berbagai kepentingan dan kesepakatan di setiap negara bangsa, dan dunia internasional untuk membahas isu-isu krusial internasional, seperti problem kemanusiaan, HAM, keadilan, ekonomi, dan terorisme dengan tanpa memandang latarbelakang etnis, ras, agama dan budaya, yang penting bersama-sama memiliki komitmen terhadap perbaikan hidup manusia di dunia internasional. Dan hasil-hasil ijmak formal dan non formal tersebut pada saatnya bisa diubah kembali sejalan dengan perkembangan situasi dan kondisi zaman modern.

Kata Kunci: Ijmak, Era Modern.

References

Abdul Aziz Dahlan (ed), Ensiklopedi Huukm Islam, Cet.Ke-1, Jilid 2, Ictiar Baru Van Hove, Jakarta, 1996.

Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Terjemahan Nor Isandar dkk, Rajawali Press, Jakarta, 1993.

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Gazali (selanjutnya ditulis al-Gazali), al-Mustaṣfa min ‘Ilm al-Uṣul (Mesir: Syirkah at-Ṭiba’ah al-Fanniyyah al-Muttahidah, 1391 H/1971 M).

Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Multazam al-thobi’u wan-Nasru Darul Fkr al-‘Araby, 1958.

Ali Abd ar-Raziq, al-Ijma‘fi asy-Syari‘ah al-Islamiyyah (Mesir: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.t.).

Ali al-Khafif, Asbab al-Ikhtilaf fi al-Fiqh (Kairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.).

Ali Jumu’ah, al-Ijma’ ‘Ind al-Uṣuliyyin (al-Qahirah: Dar ar-Risalah, 1420 H/2009 M)

Al-Imam Abi ‘Abd Allah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (selanjutnya ditulis asy-Syafi’i), ar-Risalah, pen-tahqiq Ahmad Muhammad Syakir (Mesir: Dar al-Fikr, t.t.)

As-Sarakhsi, Usul As-Sarakhsi (t.tp.: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1372).

Badar ad-Din Muhammad bin Bahadir bin ‘Abd Allah az-Zarkasyi asy-Syafi’i (selanjutnya ditulis az-Zarkasyi), Bahr al-Muhiṭ fi Uṣul al-Fiqh (al-Qahirah: Dar as-Ṣafwah, 1409 H/1988 M)

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/Penafsir al-Qur’an, Jakarta 1971.

Fazlur Rahman, Islamic Methodology in History (Karachi: Institute of Islamic Research, 1965).

Muhammad Abu Zahrah, ‘Ilm Usul al-Fiqh (t.tp.: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.t.).

Muhammad Abu Zahrah, asy-Syafi’i Hayatuh wa ‘Aṣruh Arauh wa Fiqhuh (Mesir: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1363 H/1944 M)

Nur al Din ‘Ali bin Abi Bakr al-Haitami, Majma”al Zawaid waman ba’ al-Fawaid,Jilid VII, Dar al-Fikr, Beirut, 1992.

Saif ad-Din Abu Hasan ‘Ali bin Abi ‘Ali bin Muhammad al-Amidi (selanjutnya ditulis al-Amidi), al-Ihkam fi Uṣul al-Ahkam (Riyaḍ: Daras-Ṣami’iy li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1424 H/2003 M)

Sulaiman ibn al-Asy’as as-Sajastani al-Azdi Abu Dawud (selanjutnya ditulis Abu Dawud), Sunan Abi Dawud (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.t.).

Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Juz I, al-Maktabah al-Assad, 2006.

Wahbah az-Zuhaili, Usul al-Fiqh al-Islami, 16 ed. (Damaskus: Dar el Fikr, 2009).

Zakariya as-Sibri, Masadir al-Ahkam al-Islamiyyah (Mesir: Dar al-Ittihad al-‘Arabi, 1975).

Published

2022-12-30

How to Cite

Yasir, M. (2022). IJMA’ DALAM USHUL FIKIH . SYARIAH: Journal of Islamic Law, 4(2), 126–143. https://doi.org/10.22373/jiis.v4i2.92